Hampir semua orang
memiliki pendapat sama tentang penyebab obesitas (kegemukan). Kalau tak
berkaitan dengan asupan makanan berlebih, pastilah pembakaran kalori yang
terlalu sedikit karena kurang aktifitas.
Para ahli sekarang
banyak menganggap obesitas tak ubahnya semacam epidemik dengan gaya hidup dan
pola makan yang salah. Dua penyebab utama tadi ternyata bukan satu-satunya yang
berperan. Sebuah jurnal internasional tentang obesitas belum lama ini
menjelaskan beberapa hal yang bisa memicu terjadinya obesitas disamping masalah
makanan.
Sedikit berbeda
dengan pendapat banyak orang bahkan kalangan medis yang menyatakan kalau kurang
tidur dapat menyebabkan tubuh bertambah kurus, penelitian yang dilakukan para
ahli dalam bidang obesitas ini mengatakan sebaliknya, dan tentu saja dengan
penjelasan menyangkut bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.
Dari penelitian
tersebut, didapatkan orang yang tidur kurang dari 7 jam sehari memiliki resiko
mendapatkan BMI (Indeks Massa Tubuh) lebih besar daripada orang yang tidur
dengan jam lebih banyak. Data awal yang dihimpun US National Health and
Nutrition Examination Survey ini didukung US Nurses Health Study yang
mengadakan studi terhadap 68 ribu wanita usia 16 tahun dan menemukan diantara
responden tersebut yang memiliki jam tidur rata-rata 5 jam memiliki berat badan
lebih dibanding kelompok yang tidur selama 6 jam dan lebih rendah lagi pada
kelompok 7 jam sehari.
Bukti ini mereka
hubungkan secara timbal balik dengan teori bahwa obesitas turut mengganggu
kenyamanan tidur dimana salah satu pengaruhnya adalah mengurangi kualitas tidur
seperti susah bernafas atau sering terjaga. Sedangkan tahapan awal yang
menjelaskannya merupakan salah satu peranan hormon Leptin yang berfungsi
menghambat pengaturan sinyal lapar, bangun dan selera makan menurun sementara
Ghrelin sebaliknya meninggi pada keadaan kurang tidur, ini memiliki hubungan
dengan kurangnya kualitas tidur setelah metabolisme berlebihan. Kadar Leptin
ini dijumpai menurun sekitar 18% sedangkan Ghrelin meningkat 28%, akibatnya
sering menimbulkan rasa lapar.
Hasil ini belakangan
turut didukung National Sleep Foundation pada surveinya menemukan kebanyakan
penduduk AS mengalami penurunan jam tidur pada tahun-tahun belakangan
berpengaruh pada peningkatan kasus obesitas di negara tersebut. Semua makhluk
berdarah panas termasuk manusia memiliki pengaturan temperatur tubuh
berdasarkan lingkungan melalui metabolisme dan pengeluaran keringat. Sistem
penjagaan ini membutuhkan energi kecuali kita berada dalam zona termonetral sekitar
27 derajat Celcius.
Perubahan temperatur
yang terjadi pada beberapa dekade terakhir akibat berbagai sebab pada iklim
alam ternyata diperkirakan turut berperan, dimana pengaturan iklim termasuk
penggunaan mesin pendingin dan pemanas ruangan ikut mempengaruhi berat badan
kita. Pada iklim nyaman yang berbeda-beda untuk setiap individu energi yang
dikeluarkan untuk pengaturan tersebut lebih sedikit. Pengeluaran keringat
membakar energi seperti yang banyak diketahui dan cuaca panas berperan dalam
menahan nafsu makan manusia.
No comments:
Post a Comment