Diet Atkins atau low carbohydrate ini
diperkenalkan oleh seorang ahli nutrisi Amerika Serikat Dr. Robert Coleman
Atkins, pada 1970 silam. Pantangannya segala macam karbohidrat dalam bentuk
apapun, entah itu roti, keju, beras merah, kentang maupun mie dan nasi.
Energi penggantinya didapat dari makanan yang
kaya protein dan lemak, seperti daging, ikan, telur dan sebagainya.
Protein dan lemak akan membuat rasa kenyang
lebih tahan lama sehingga pelaku diet tidak mudah lapar. Meski begitu, asupan
lemak menjadi berlebihan sehingga metabolisme tubuh tidak seimbang. Bagi
perempuan, lemak yang berlebih ini umumnya disimpan di perut, paha dan pinggul.
Hanya dalam enam bulan, penurunan bisa mencapai 10 kg.
Menurut ahli nutrisi dari Klinik Nutrifit
Jakarta, Dr. Samuel Oetoro, M.S., Sp.GK, diet rendah karbohidrat merupakan diet
yang membatasi sumber karbohidrat.
Karena tak mengonsumsi karbohidrat, para
pengikut diet rendah karbohidrat mendapat energi dari makanan yang tinggi
protein dan lemak. "Konsekuensinya, mereka meninggikan konsumsi protein.
Sumber proteinnya diperoleh dari daging. Padahal kita tahu, daging mengandung
lemak. Akibatnya, selain kadar protein dalam tubuh tinggi, lemaknya juga
tinggi," jelas Samuel.
Ia menambahkan, "Enaknya diet seperti
ini, kenyangnya lebih tahan lama. Karena makanan yang mengandung protein dan
lemak akan membuat kita merasa lebih kenyang. Tetapi pendapat itu keliru,
karena asupan lemak jadi berlebihan."
Masih menurut Samuel, diet rendah karbohidrat
memang awalnya sangat menggembirakan bagi orang-orang yang sedang dalam program
penururan berat badan. Menurut penelitian, pada enam bulan pertama, berat badan
bisa turun drastis, terutama dalam waktu dua atau tiga bulan pertama. Meski
penurunannya pada setiap orang berbeda-beda, dalam enam bulan, berat badan bisa
turun sampai 10 kg! Namun, setelah enam bulan, berat badan cenderung turun
pelan dan sedikit sekali. Jika akan diturunkan lagi biasanya susah.
Selain itu, menurut Samuel, cepatnya
penurunan berat badan ini lantaran ikut keluarnya air dalam tubuh.
"Hal ini disebabkan adanya metabolisme
atau proses pembakaran dalam tubuh. Kalau seseorang tidak makan karbohidrat,
air cenderung dikeluarkan. Padahal dalam penurunan berat badan, yang harus
diturunkan adalah lemak, bukan kadar air dalam tubuh."
Akibatnya, jika terlalu banyak cairan tubuh
yang keluar, orang tersebut bisa mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan.
Idealnya, jika sedang dalam tahap pelangsingan badan, seminggu menurunkan berat
antara setengah sampai satu kilo gram. Jadi, sebulan maksimal turun sekitar
empat kilo gram. "Bisa saja turun sampai 5-6 kg tetapi harus dalam
pengawasan ketat dokter gizi. Kalau tidak, bisa terjadi komplikasi
penyakit," ungkap Samuel.
Selain itu, diet rendah karbohidrat juga
sangat berisiko menyebabkan penyakit karena tingginya asupan protein dan lemak
tinggi. Antara lain bisa menyebabkan hiperkolesterol (tinggi kolesterol),
menambah risiko penumpukan lemak berlebihan, dan penyumbatan pembuluh darah.
Kelebihan protein dan lemak juga akan membebani ginjal. Kalau seseorang
melakukan diet seperti ini selama bertahun-tahun, ginjalnya bisa rusak.
Seseorang yang telah telanjur terkena
gangguan tersebut harus segera diobati dan ditangani oleh dokter di bidangnya.
Misalnya, penanganan sakit ginjal dan jantung. "Selain itu, pola dietnya
juga harus segera diubah dalam diatur ulang," kata Samuel melanjutkan.
No comments:
Post a Comment