Wednesday, September 30, 2015

BERAT BADAN JUGA BERPENGARUH TERHADAP KESUBURAN



Studi atas 1600 pria di Denmark menunjukan bahwa seorang pria yang memiliki tubuh terlalu kurus atau terlalu berat akan memiliki masalah dengan kesuburannya. Dr Tina Kold Jensen dari University of Southern Denmark menemukan bahwa berat badan menentukan reproduksi kualitas hormon sperma.

Menurut Dr Tina Kold Jensen pria yang memiliki tubuh kurus atau terlalu gemuk akan memliki kandungan sperma yang rendah sehingga tidak cukup untuk melakukan pembuahan. Untuk melakukan penelitian atas 1600 pria di Denmark itu, Dr Tina Jensen menggunakan `body mass index (BMI)` untuk menentukan berat badan dan dampak kualitas sperma.

Dalam sejumlah kasus, Dr Jensen mencatat bahwa pria yang terlalu gemuk atau terlalu kurus tidak cukup untuk memproduksi sperma yang baik bila dibandingkan dengan pria dengan berat badan normal. Sebagai contoh pria yang berada dibawah atau diatas BMI akan memiliki jumlah sperma 20 juta permilimeter dan itu merupakan sebuah kondisi tidak normal.

Hasil penelitian tim pimpinan Dr Jensen ini dipublikasikan melalui the journal Fertility & Sterility. Menurut Dr Jensen, sejauh ini belum diketahui bagaimana cara memelihari berat badan agar tetap normal sebagai upaya untuk mencari peluang menjadi seorang ayah. Masalah berat badan dengan kesuburanh sebenarnya juga dialami oleh para wanita.

Dimana wanita yang cenderung memiliki berat badan berlebihan atau obesitas akan mengalami resiko ketidaknormalan masa mentruasi yang berhubungan erat dengan pembuahan.

RAMUAN ALAMI UNTUK MELANGSINGKAN BADAN



Anda bingung mengatasi berat badan yang semakin naik atau ingin memiliki tubuh langsing nan sehat dan bebas efek samping? Jika sudah bosan dengan produk-produk pabrik, mungkin bisa melirik dan mencoba yang alami. Ramuan tradisional dengan bahan-bahan alamiah ini dikenal bisa melangsingkan badan namun tetap sehat. Sebuah solusi untuk anda coba.

KEMUNING
Kemuning temasuk tumbuhan perdu banyak tumbuh di hutan dan ladang, bunganya wangi dan berwarna kuning.
Khasiatnya: sebagai obat untuk mengatasi masalah haid yang tidak teratur pada wanita, dan mengobati kencing bernanah. Daunnya berkhasiat untuk mengatasi masalah kelebihan lemak pada tubuh, sedangkan kulitnya bermanfaat untuk memperbaiki gigi yang rusak.
Ramuannya: Segenggam penuh daun Kemuning, ditambahkan ke segenggam penuh daun mengkudu (Morido Citrifolia) dan 1/2 jari kelingking Temugiring (Curcuma Heyneano).
Bahan-bahan di atas ditumbuk sampai halus sambil ditambahkan satu cangkir air, kemudian diperas dan air hasil perasan tersebut diminum pagi hari sebelum sarapan.

JATI LONDO
Ciri khas dari Jati Londo, antara lain; Bunganya berwarna kuning berbintik merah, daunnya berbentuk merah ,daunnya berbentukjantung dan berbulu pada bagian bawah. Sedangkan buahnya keras, beruang lima dan berwarna hitam.
Ciri lain, Jati Londo berbiji banyak dan warnanya kuning kecoklatan serta berlendir dan rasanya agak manis. Sebagai anggota keluarga Sterculiaceae, Jati Londo tertutup oleh rambut berupa bintang. Menurut para ahli, kulit tumbuhan ini mengandung zat, seperti; minyak lemak, glukosa, asam damar, tanin, tendir dan zat yang rasanya pahit. Sedangkan daunnya mengandung zat alkaloids, damar dan zat samak.

Khasiatnya:
Beberapa negara bagian, memanfaatkan kulit Jati Londo sebagai obat untuk penyakit cacingan dan penyakit kaki gajah. Yaitu dengan mengambil sari pati dari air masakan Wit Jati Londo. Air masakan tersebut, dapat pula dijadikan sebagai obat untuk menciutkan urat darah, tonikum, serta obat penyakit lepra dan herpes.
Di Indonesia, air masakan dari daun Jati Londo, banyak dipakai untuk mengurangi pembentukan lemak, menguruskan dan merampingkan tubuh. Memang ada efek sampingnya, apabila takaran daun dan biji Jati Londo yang digunakan melebihi takaran. Saat ini, salah satu produk rarnuan jamu Indonesia yang paling banyak dikonsumsi adalah jamu galian singset. Dari ramuan jamu tersebut, ternyata Jati Londo merupakan salah satu komponennya.
Ramuannya: Ambil dua pucuk lembar daunnya, kemudian dicuci bersih dan dipotong-potong kecil. Lalu direbus dengan air bersih sebanyak tiga gelas makan. Setelah dingin, air masakan tersebut disaring dan diminum 2 - 3 kali sehari. Agar rasanya lebih enak, boleh ditambah dengan gula secukupnya.
Yuks, langsing dengan sehat bersama bahan alami. Selamat mencoba:)


Diet Golongan Darah



Sekitar tahun 1996 di Amerika diperkenalkan cara baru diet dengan mendasarkan pada golongan darah si pelaku. Diet ini diperkenalkan oleh seorang naturopatis dari Stamford, Connecticut, Amerika Serikat, bernama Dr. Peter J. D’Adamo.

Dalam bukunya berjudul "Eat Right For Your Type", Dr. D’Adamo menyebutkan bahwa manusia yang memiliki tipe darah berbeda pasti memiliki respon atau tanggapan terhadap makanan yang berbeda pula.

Gagasan ini berakar pada sejarah evolusi, khususnya yang berkaitan dengan perbedaan golongan darah (O, A, B, dan AB). Berdasar sejarah evolusi itu disebutkan bahwa sekitar 50.000 sampai 25.000 tahun SM, nenek moyang kita memiliki tipe darah yang sama, yakni O. Mereka ini adalah para pemburu sejati. Setiap hari makanan pokoknya daging.

Namun, pada sekitar tahun 25.000 sampai 15.000 SM, ketika gaya hidup manusia berubah dari pemburu menjadi peramu dan kemudian agraris, muncullah tipe darah A, sebagai penyesuaian atas kebiasaan yang ada. Kemudian, akibat percampuran dari berbagai ras dan terjadinya migrasi dari Afrika ke Eropa, Asia, dan Amerika, tipe darah B muncul. Selanjutnya di zaman modern yang sudah penuh dengan bermacam manusia, tipe darah AB baru ada.

Dalam hal ini, Dr. D’Adamo yakin bahwa kemampuan beradaptasi dengan lingkungan yang dimiliki manusialah yang menyebabkan terjadinya perubahan tipe darah. Adaptasi yang tentu saja terkait dengan makanan yang diasup, diyakini D’Adamo menjadi kunci sehat nenek moyang kita. Karena itu, menurut dia, kalau mau sehat kita mesti makan seperti yang dilakukan oleh nenek moyang. Misalnya saja, ia memberi rekomendasi bahwa mereka yang bertipe darah O cocok melakukan diet dengan mengasup lebih banyak daging, sedangkan untuk golongan darah A mengikuti diet vegetarian, yakni mengonsumsi makanan rendah lemak.

Bagaimanakah kesimpulan itu bisa didapat Dr. D’Adamo? Tentu saja jawabannya lewat penelitian-penelitian yang sudah dilakukannya. Penelitian selama bertahun-tahun atas tipe darah menunjukkan bahwa ada efek fisiologis yang muncul akibat lektin yang masuk dalam tubuh. Lektin adalah protein yang terdapat pada umumnya makanan, khususnya biji-bijian dari tanaman polong-polongan. Setiap protein yang terserap tubuh lewat makanan yang kita asup, menurutnya, masing-masing hanya cocok dengan tipe darah tertentu. Kalau makanan tersebut lektinnya tidak cocok dengan tipe darah, akan terjadi bahaya. Bahaya itu berupa menggumpalnya sel darah merah. Proses yang disebut aglutinasi yang dilakukan lektin inilah yang mengakibatkan munculnya banyak keluhan kesehatan.

Terkait dengan persoalan inilah, Dr. D’Adamo melakukan penelitian dengan mengecek reaksi setiap tipe darah terhadap makanan tertentu. Berdasarkan penelitian ini, ia membuat daftar makanan apa saja yang cocok dengan tiap-tiap tipe darah. Bahkan selain tipe darah, masih digolongkan juga makanan berdasarkan ras. Sebab, menurutnya, tipe darah masing-masing ras berbeda. Ini akibat dari perbedaan lingkungan yang ditempatinya.

Hasilnya, terdaftar oleh Dr. D’Adamo 16 kategori makanan. Terdiri dari: daging dan unggas; hasil laut; susu dan telur; minyak dan lemak; kacang dan biji-bijian; buncis dan polong-polongan; sereal; roti dan aneka kue; padi-padian dan pasta; sayur-sayuran; buah-buahan; jus dan segala macam cairan; rempah-rempah dan bumbu; teh-teh herbal; dan bermacam-macam minuman.Makanan-makanan ini masih dimasukkan dalam golongan sangat baik, netral, atau harus dihindari sesuai tipe darah. Golongan sangat baik bisa diartikan bahwa makanan itu bekerja bagaikan obat. Golongan netral berarti makanan tersebut bekerja sebagaimana yang pengaruhnya kecil bagi tubuh. Golongan dihindari berarti makanan bertindak bagaikan racun bagi tubuh.

Kelemahan : John McMahon, ND, seorang naturopatis dari Wilton Connecticut, AS, menyatakan bahwa teori diet ini masih harus diteliti lebih lanjut. Dikatakan John bahwa penelitian Dr. D’Adamo atas pengaruh lektin terhadap makanan dijalankan di luar tubuh, maksudnya hanya dilakukan di sebuah tabung uji. Padahal, semestinya harus diteliti dalam tubuh. Selain itu, efek lektin makanan yang sudah dimasak juga belum terbukti. Memang, Dr. D’Adamo melakukan tes terhadap makanan yang belum dimasak. Namun, bukankah makanan yang diasup biasanya sudah dimasak?

Sikap dan pernyataan yang sama juga diungkapkan John Foreyt, Ph.D, ilmuwan dari Baylor College of Medicine di Houston, AS. "Walaupun teori ini sudah lama dibicarakan dan diteliti, tidak ada kesimpulan yang didapat. Tidak ada kaitannya antara tipe darah dan penyakit tertentu. Ini adalah loncatan kesimpulan yang masih perlu diteliti lebih lanjut," tutur Andrea Wiley, Ph.D, profesor antropologi dari James Madison University di Harrisonburg. Bahkan Dr. Samuel Oetoro,MS., ahli gizi dari Klinik Nutrifit di Jakarta menambahkan bahwa penelitian yang dilakukan Dr. D’Adamo tidak memenuhi standar penelitian ilmiah. Teori yang diajukannya hanya berdasar bukti empiris atau pengalaman yang dijalankan orang. "Jelas itu tidak cukup," tuturnya.

DETOX DENGAN JUICE WHY NOT???



Juice Threapy - Detoxifikasi adalah tindakan melakukan pola makan dengan buah mentah sepenuhnya (whole day), yang biasanya dengan cara di blender atau dimakan dengan cara dikunyah.

Banyak orang lebih memilih blender karena lebih nyaman mengkonsumsinya, tanpa harus payah payah mengunyah.

Detoksifikasi atau detoks yang menurut ahli terapi nutrisi Andang Gunawan adalah tindakan membuang timbunan kelebihan sampah dan racun yang telah terkumpul dalam tubuh. "Sebenarnya setiap hari tubuh kita melakukan detoks. Hal ini bisa kita lihat setiap hari ada pembuangan. Entah buang air besar, air kecil atau keringat. Jadi seharusnya ini sudah berjalan dengan sendirinya. Nah, jika apa yang kita makan dan yang kita keluarkan itu seimbang, racun tak sempat menumpuk. Badan kita pasti sehat, bugar, dan langsing. Metabolisme tubuh juga baik dan kita juga enggak gampang stres," urai pengarang buku best seller, Food Combining, Kombinasi Makanan Serasi ini.

Masalahnya yang sering terjadi, meskipun buang air lancar setiap pagi, ternyata tubuh tetap loyo dan sakit-sakitan. Bisa jadi, kata Andang, karena sistem pembuangan kita tidak efektif atau optimal sehingga ampas/sampah makanan masih ada yang tertinggal di tubuh kita. "Kita selama ini berpikiran kalau berat badan naik itu berarti lemak, padahal itu bisa sampah yang tertinggal," kata Andang yang belajar mengenai food combining di Queensland Institute of Natural Science di Australia.

Sampah yang tertinggal itu sebagian besar disimpan di usus besar karena usus besar bisa membesar sampai lima kali ukuran normalnya. "Sisa makanan yang tak bisa keluar dipadatkan di dinding usus, akhirnya menumpuk terus menjadi kerak. Nah, itu, kan, tempatnya penyakit. Akan terjadi pembentukan racun."

Selanjutnya, racun yang tersimpan di usus ­karena dinding usus terdiri atas pori-pori yang menyerap semua yang ada termasuk toksin akhirnya menyebabkan toksin-toksin ini masuk ke pembuluh darah yang lalu beredar ke mana-mana. Kalau sudah begitu, ya, pastilah akan mengganggu kerja sel-sel dan jaringan-jaringan yang lain.

Dengan demikian, tak ada salahnya bila kita melakukan detoksifikasi secara rutin. Apalagi di zaman modern ini kita banyak mengonsumsi jenis makanan yang tak bisa diterima oleh tubuh, semisal makanan yang diawetkan, makanan dengan pewarna, daging dan ayam yang disuntik, makanan yang terpolusi pestisida, dan sebagainya. Jelas bahwa kadar sampah yang harus dihadapi tubuh pun makin meningkat. Jadi detoks secara khusus sangat dianjurkan.

NILAI PLUS DETOKS

Tujuan utama kita melakukan detoks adalah agar badan sehat karena metabolisme terjaga dengan baik. Namun menurut Andang, detoks yang dilakukan secara rutin juga bermanfaat lain, yaitu:

    *

      Kulit jadi lebih bercahaya, sehat dan mulus.
    *

      Berat badan terjaga
    *

      Meningkatkan vitalitas
    *

      Meningkatkan imunitas dan kekebalan tubuh
    *

      Menghilangkan selulit
    *

      Karena tubuh menjadi lebih bugar, pada akhirnya mengurangi insomnia, stres atau depresi

SIAPA YANG BOLEH MELAKUKAN DETOKS?

"Siapa pun yang merasa pola makannya kurang terjaga boleh melakukan detoks," kata Andang. Namun secara umum detoks tak dianjurkan bagi mereka yang:

    *

      Sedang hamil atau menyusui
    *

      Menderita penyakit berat dan serius semisal kanker pada stadium lanjut
    *

      Sedang menjalani perawatan medis untuk suatu penyakit atau baru pulih dari kondisi penyakit serius
    *

      Balita.

DETOKS PRAKTIS TIGA HARI

Bagi yang ingin memulai program detoks, Andang memberikan program detoksifikasi ringan. "Detoks ini dapat dilakukan oleh orang awam karena hanya berlangsung tiga hari," katanya.

Selama detoks, kita hanya makan buah yang sebaiknya di blender dan minum air putih. Mengapa buah yang dipilih? Karena buah paling nyaman dan masih ada rasa manisnya. Buah juga merupakan antioksidan tinggi yang berguna membuang racun selain memberikan zat gizi pula. "Jadi, selama detoks kita tak perlu khawatir kehilangan zat gizi."

Jus buah ini diminum setiap dua jam sekali diselingi minum air putih. Buah-buahan yang dianjurkan untuk detoks adalah pepaya, nanas, apel, semangka dan mangga. "Sebaiknya terapkan monodiet. Artinya kalau di hari pertama minum jus pepaya, maka seharian itu buahnya pepaya saja. Kalau hari kedua apel, ya, apel terus selama hari kedua. Begitu pun di hari ketiga."

Detoks praktis ini bisa dilakukan sebulan sekali. Bila sudah terbiasa, bisa diteruskan lima hari sampai tujuh hari. Anda harus banyak minum untuk memperlancar proses pembuangan dan menghindari dehidrasi.

Selama proses detoksifikasi berlangsung, umumnya kita akan merasa agak lemas atau kepala sedikit pusing karena sebagian besar energi dipusatkan pada fungsi pembuangan. Oleh karena itu hindari aktivitas yang mengurangi energi berlebihan. Lakukan olahraga ringan di tengah udara terbuka dan bersih untuk memperlancar peredaran darah dan getah bening, semisal jalan kaki, senam peregangan/stretching, yoga, atau tai-chi.

"Cari waktu yang tepat untuk melakukan detoks. Sebaiknya dilakukan pada akhir minggu atau hari libur agar pikiran dan tubuh Anda bisa lebih santai," anjur Andang.

(Referensi : Nakita)